SELAYANG PANDANG AL-IHSAN
Lembaga Taman Pendidikan Al Quran Al Ihsan berdiri pada tahun 1930. Lebih tepatnya saat zaman penjajahan, lembaga ini lebih dikenal dengan tempat ngaji "Yai Mad" karena pada zaman itu para santri lebih sering menamai tempat ngajinya dengan penisbatan kepada pendirinya. Kembali lagi, Taman Pendidikan Al Quran Al Ihsan (TPQ Al-Ihsan) didirikan oleh Alm. KH. Ahmad Nasib yang berorientasi pada baca tulis Al-Quran dengan metode baghdadi. Sebenarnya beliau lebih kondang dengan sebutan pendekar karena penguasaan ilmu kanoragan yang mumpuni sekaligus juga menjadi guru ngaji di daerah Klampok (sekarang daerah Gading Kasri). Beliau adalah bilal pertama Masjid Baiturrahman Pondok Gading. Pada zaman dulu memang tidak pernah beliau menyebutkan nama lembaga atau TPQnya hanya mengaji di Kyai Ahmad. Hal tersebut sudah berjalan mulai pada tahun 1930. Kemudian Al-Ihsan ini baru dicetuskan namanya di tahun 2009 karena untuk pendataan administrasi kepemerintahan. Alhasil Al-Ihsan akan menjadi lembaga resmi dengan nama Taman Pendidikan Al-Quran Al-Ihsan. Kini, Al-Ihsan tidak hanya memiliki TPQ saja. Lebih dari itu, demi menjaga keseimbangan dan keberlanjutan pendidikan agama islam Al-Ihsan mengembangkan unit pendidikan madrasah diniyah mulai dari jenjang ula - wustho dan Pesantren Prestasi Al-Ihsan Putri (PPAIP).
Fokus pada pembahasan PPAIP, inilah wajah baru Al-Ihsan dengan terobosan program mutakhir yakni menkorelasikan antara ilmu formal dan non formal. Formal yang berorientasi pada ilmu di lingkung perkuliahan dan non formal yakni ilmu-ilmu furuiyah keislaman. Harapan besar bahwa penggabungan 2 fan ilmu ini akan menciptakan generasi yang kuat intelek dengan memperhatikan adab, kesitiqomah (ajeg), dan keikhlasan.
PPAIP sendiri hanya dikhususkan untuk para mahasiswi/mahasantri yang sedang duduk di bangku perkuliahan. Sehingga, secara linearitas keilmuan bisa dikatakan komplit mulai dari TPQ lanjut ke Madin kemudian lanjut ke PPAIP.


