Oleh: Nailufar
Pada tahun 2020 yang seharusnya sudah menjadi seorang mahasiswa, untuk sementara harus tersimpan lagi dalam doa dan takdir menunjukkan ke Provinsi Jawa Tengah untuk memperdalami ilmu agama khususnya ilmu Al-Qur’an. Kecewa dengan takdir yang sudah ditetapkan hal yang wajar karena sifat manusia pelupa bahwa ia hidup di dunia ini bukan sebagai sutradara tetapi sebagai tokoh utama di panggung sandiwara.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya tersadarkan ‘ternyata ini maksud Tuhan mentakdirkan di jalan yang berbeda dengan yang lainnya’. Pada saat itu yang selalu menjadi penguat adalah manusia keramat yang harus aku bahagiakan. Bagaimanapun jalan prosesnya dihadapi dengan semampunya, terus melangkah tanpa melihat kanan kiri, sabar dan sadar dengan proses, Alhamdulillah sampai juga di tujuan. Pada hakikatnya semua ini bukan karena ikhtiar semata tetapi Dia-lah yang Maha memberikan kemudahan. Ikhtiar hanyalah salah satu bentuk kesungguhan manusia dalam mencari ridhoNya.
Setelah semua dilalui, aku buka lembaran baru menjadi seorang mahasiswa. Mempersiapkan banyak hal; belajar bersama ruang guru, daftar semua jalur mulai dari reguler sampai beasiswa tahfidz dan hasilnya belum beruntung (harus mencoba lagi). Jujur, pada saat itu sangat penasaran dengan takdir-Nya, dimana Dia akan menempatkanku, yang selalu dipinta pada-Nya adalah ingin ditempatkan di lingkungan yang positif bersama orang-orang yang baik, dimana kuliah ini menjadikan aku lebih dekat dengan Tuhan dan Rasul-Nya juga hafalan Al-Qur’an yang harus dijaga. Benar apa yang dikatakan oleh Dena Haura “Tuhan akan mempertemukan apa yang kita cari” dan Alhamdulillah di tempatkan dan dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan in syaa allah membawa banyak keberkahan dan kebermanfaatan aamiin bilqobul ya rabb.
Awal menjadi mahasiswa sangat ambisius, ingin menjadi mahasiswa yang aktif, kreatif, inovatif, bisa mencoba hal baru dan memiliki banyak pengalaman yang positif. Entah kenapa setelah dijalani menjadi seorang mahasiswa rasa ambisius itu sedikit terkikis dan lebih menjalani apa yang ada di depan mata, mode santai tapi serius. Tidak mengapa yang penting selalu ingat dengan tujuan.
Menjadi seorang mahasiswa adalah hal yang harus disyukuri, karena tidak semua para remaja bisa duduk dibangku kuliah, masih banyak remaja yang ingin mencari ilmu pendidikan tinggi harus rela berkorban demi raga yang lain. Menjadi mahasiswa bukan hanya berpikir atau mengejar nilai IP 4,0 dengan cumlaude atau gelar yang berderetan. Rasanya jika kita meniatkan dan mengejar hal itu adalah sesuatu yang sangat disayangkan karena pada hakikatnya menjadi mahasiswa adalah belajar kehidupan; belajar berpikir kritis, belajar berargumen, belajar menerima pendapat yang berbeda, dan yang lebih penting adalah belajar menyelesaikan dengan diri sendiri.
Kita ingin menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah pulang) atau kura-kura (kuliah rapat) itu semua tergantung diri kita. Sudah bukan waktunya lagi mengikuti gaya seperti orang lain atau apa kata orang. Hal yang harus kita ingat adalah mumpung masih ada umur dan ditakdirkan menjadi mahasiswa, maka mari kita manfaatkan dengan baik. Selalu sadar bahwa yang namanya hidup memang membutuhkan perjuangan dan proses. Jatuh, bangun lagi. Kalah, coba lagi. Gagal, bangkit lagi. Jika hidup ini serba instan, sudah pasti tidak akan tahu apa makna dibalik keberhasilan dan rasa syukur.
Setiap orang mempunyai waktu mekarnya masing-masing. Fokuslah dengan pencapaian diri bukan orang lain. Memang berat, namun dengan lillah, perlahan dan konsisten, pasti bisa. Bismillah, biidznillah, lillah, la haula wala quwwata billah.
