Kenalin, aku Alifah, anak Biologi semester tiga. Tapi, rutinitasku beda dari teman-teman yang lain. Sejak awal masuk, aku sudah memutuskan tinggal di pesantren dan ikut program Tahfidz. Intinya, aku punya dua jobdesk yang sama-sama menguras energi. Sampai sekarang, hafalanku sudah on going 8 Juz dan ini harus terus jalan, meskipun tumpukan laprak sudah kayak gunung. Jadi, setiap hari aku benar-benar balapan antara deadline laporan praktikum (laprak) dan jadwal setoran hafalan.
Semester tiga ini rasanya kayak udah naik level kesulitan. Praktikumnya jadi "serius" banget dan makan waktu lama. Contohnya di Lab Biokimia, aku harus ukur-ukur reaksi kimia di tubuh dengan super hati-hati. Salah tetes pakai pipet kecil aja, datanya bisa salah semua dan harus ngulang semua dari nol. Belum lagi laporan Genetika yang isinya hitungan statistik yang bikin kepala cenat-cenut, ditambah harus baca jurnal-jurnal bahasa Inggris yang bikin mata lelah. Semua waktu siangnya dihabiskan di kampus. Pikiranku malam-malam selalu penuh rumus, data, dan nama-nama Latin yang bikin mumet.
Di sisi pesantren, tanggung jawab sebagai santri tahfidz itu besar. Aku harus nambah hafalan baru setiap hari, dan terus muroja'ah. Jam 03.00 dini hari alarm dari hp ku pasti berbunyi. Ini waktu penting banget buat muroja’ah dan ziyadah, walaupun mata udah perih karena baru tidur sebentar habis begadang ngerjain laporan. Tidurku selalu dikorbanin. Pikiranku dipaksa pindah cepat dari mikirin logika data Biologi, langsung pindah ke ketenangan hati buat setoran Qur'an.
Ini adalah tantanganku sekarang, waktu bener bener saling bertabrakan. Aku sering banget ngerasa down. Baru aja kelar bikin pembahasan Biokimia yang rumit, terus tiba-tiba harus langsung duduk tenang, buka dan baca Qur'an, dan fokus pada setiap huruf buat setoran. Capek fisik sama capek mental rasanya campur jadi satu. Aku sering sekali ngomong sendiri, "Ya Allah, aku capek banget," sambil lihatin langit-langit kamar. Rasanya serba salah, kalau aku fokus di kuliah, praktikum dan laporan, hafalanku bakal lupa. Kalau fokus banget di Tahfidz, laporan praktikum dan tugas-tugas kuliah pasti nggak maksimal.
Tapi, dari semua rasa capek ini, aku belajar arti konsisten. Konsisten itu bukan berarti aku nggak boleh capek atau selalu senyum. Konsisten itu artinya walaupun capek dan rasanya mau nyerah, aku tetap nggak berhenti. Aku sadar, dua jalan ini malah saling ngasih kekuatan. Mental baja yang aku dapat waktu harus ngulang eksperimen Biologi yang gagal, sekarang kupakai buat sabar untum terus menjaga Alquran. Aku berjuang untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat secara seimbang. Aku yakin, perjuangan ganda ini akan membentukku menjadi saintis yang kokoh dan beriman kuat. Sebab, mempelajari ilmu alam, seperti Biologi, adalah cara memahami isi Al-Qur’an tentang alam semesta (ayat-ayat kauniyah), yang membuat ilmu dunia tidak terlepas dari ilmu akhirat. Aku harus memanfaatkan setiap waktu sebaik mungkin, karena praktikum dan selalu Muroja’ah serta Ziyadah adalah amanah yang harus kupenuhi.
