Malam Idulfitri adalah puncak kemenangan spiritual, ditandai dengan lantunan takbir. Tradisi membaca takbir, tahmid, dan tahlil pada malam hari raya adalah sunah yang sudah ada sejak masa Rasulullah SAW. Di Indonesia, semangat takbir berkembang menjadi tradisi Takbiran Keliling yang meriah. Awalnya, pawai ini berfungsi sebagai pengumuman resmi berakhirnya Ramadan, di mana bedug dan obor menjadi alat komunikasi efektif untuk menyebarkan berita ke seluruh pelosok desa di era minimnya teknologi.
Seiring waktu, Takbiran Keliling berevolusi menjadi perayaan budaya. Melalui proses akulturasi (penyatuan budaya), alat musik tradisional seperti Bedug diintegrasikan ke dalam syiar Islam, menciptakan irama meriah yang memimpin pawai.
Bagi warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin), tradisi ini memiliki dasar kuat dalam metode dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah yang dianut, yang menghargai akulturasi dan warisan budaya lokal:
Pelestarian Bedug: Lingkungan pesantren dan masjid NU konsisten melestarikan bedug sebagai bagian dari syiar. Dalam takbiran, bedug menjadi instrumen utama yang mendukung semangat dzikir jahr (berzikir dengan suara keras) di tengah masyarakat.
Syiar dan Ukhuwah: Tradisi ini sejalan dengan prinsip syiar Islam secara terbuka dan meriah. Pawai keliling adalah wujud nyata dari kebersamaan (ukhuwah Islamiyah) yang dijaga kuat oleh Nahdliyin, mempererat ikatan emosional antarwarga menyambut hari raya.
