(Abdi Ndalem Pondok Pesantren Masjid Agung Jami’ Malang)
Ketika dunia menyuruh mereka terus berlari dan mengonsumsi, mereka memilih duduk bersila, diam, dan memaknai.
Malang pada malam hari adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Ditengah kota pun, disekitar alun alun Merdeka kota malang, suara klakson kendaraan, tawa dari kedai kopi, dan derap langkah dari orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Akan tetapi tepat dibelakang megahnya arsitektur Masjid Agung Jami’ tepatnya di gang kauman, ada sebuah denyut kehidupan yang sama sekali berbeda. Terdapat belasan anak muda yang memilih menepi sejenak dari bisingnya dunia.
Mereka bukan sekedar anak muda, mereka kumpulan dari berbagai daerah, berbagai kampus-kampus di kota malang, yang memutuskan untuk tinggal disebuah pondok mahasiswa, digempuran teman-teman kuliah yang nyaman memilih untuk ngekos.
Di luar tembok pondok itu, mereka adalah representasi Gen Z. generasi yang hari-harinya diakrabi oleh deadline tugas kampus, rentan terserang quarter life crisis dan kerap dihantui kegelisahan akan masa depan. Namun, dibulan suci ini, alih-alih melarikan kecemasan itu ke café hopping atau menscroll layer media social tanpa henti, mereka memilik sebuah laku spiritual klasik: ngaji kilatan
Tradisi "kilatan" (atau yang di daerah pesisir Jawa akrab disebut "ngaji pasaran") sebenarnya bukan barang baru. Di masa lampau, tradisi ini lahir dari para santri pengelana. Setiap bulan Ramadhan tiba, mereka nomaden dari satu pesantren ke pesantren lain hanya dengan menggendong buntalan sarung dan baju. Dengan tujuan berburu sanad keilmuan langsung dari kiai-kiai sepuh.
Dulu, ngaji kilatan ini memang murni soal kecepatan. Ibarat maraton, ini adalah trik untuk mengkhatamkan kitab-kitab tebal hanya dalam hitungan minggu. Mereka memanfaatkan berkah waktu Ramadan sebelum akhirnya mudik ke kampung halaman.
Tapi, hari ini sejarah itu berbeda pemaknaannya. Buat para mahasiswa yang ikut duduk bersila di sana, ngaji kilatan bukan lagi cuma urusan memaknai kitab sampai akhir. Di era digital yang serba riuh ini, di mana overthinking merajalela, dan kita sering tertipu ilusi bahwa kita memegang kendali penuh atas hidup, ngaji kilatan justru berubah wujud menjadi semacam oase kewarasan.
Menariknya, tradisi ini jadi sangat relevan sekarang justru bukan karena faktor "kilat"-nya, melainkan karena ia mengajarkan satu hal penting yang sering absen di bangku kuliah: tawakkal. Di kampus, mahasiswa dicekoki teori untuk merencanakan masa depan sepresisi mungkin. Namun di atas karpet pondok, mereka disadarkan bahwa merasa cemas itu wajar dan manusiawi, tetapi tawakkal adalah solusinya.
Di sinilah mereka belajar menyadari batasan diri. Mereka seolah mempraktikkan langsung salah satu dawuh mahsyur dari Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لاَ تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
"Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengatur (urusan duniamu), karena apa yang sudah diurus oleh Selainmu (Allah) untukmu, tak perlu lagi engkau sibuk mengurusnya."
Dawuh ini menjadi pukulan telak sekaligus pelukan hangat bagi mereka. Bahwa setelah pontang-panting mengejar nilai dan ambisi duniawi seharian, harus ada ruang untuk berserah. Ngaji kilatan menjadi sebuah ruang jeda; tempat di mana ambisi dipersilakan duduk tenang, digantikan oleh kelegaan bahwa tugas manusia di bumi hanyalah berikhtiar sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya biarlah langit yang mengatur.
Pada akhirnya, dentang jam kota di sekitar Alun-Alun Merdeka Malang tidak akan pernah benar-benar berhenti. Tuntutan lulus tepat waktu, bayang-bayang masa depan, hingga kerasnya persaingan dunia kerja akan selalu menanti anak-anak muda ini. Namun, pemandangan di Pondok Masjid Agung Jami' setiap Ramadan selalu menyisakan satu optimisme yang hangat. Anak-anak muda dari berbagai kampus ini membuktikan bahwa menjadi manusia modern yang adaptif tidak berarti harus tercabut dari akar spiritualitas. Melalui tradisi ngaji kilatan, mereka mengajarkan kita satu rahasia besar untuk bertahan waras di era yang serba tergesa: bahwa terkadang, cara terbaik untuk memenangkan kerasnya kehidupan dunia adalah dengan duduk bersila, diam, dan membiarkan langit yang bekerja.
