Yoga Rizqi Amrullah (Aktivis NU kultural dan stuktural di PK IPNU UIN Malang)
Penjual baju muslim musiman mulai menggelar dagangannya di sudut-sudut kota. Pusat-pusat perbelanjaan dipenuhi langkah kaki datang dan pergi silih berganti. Di pinggir jalan, para penukar uang baru berjejer rapi memajang lembaran rupiah yang masih berbau “khas”. Jalan raya dipadati deru mesin dari berbagai penjuru, membawa rindu menuju kampung halaman. Tiket transportasi dari berbagai kelas ludes terjual oleh mereka yang hendak kembali ke haribaan keluarga.
Di rumah-rumah yang mereka tuju, meja tamu telah tertata dengan toples-topes camilan yang siap menjamu. Media masa pun dihiasi kabar mengenai sidang isbat menandakan hari raya semakin dekat. Hingga pada akhirnya malam tiba, gema takbir saling bersahutan dari berbagai penjuru menyatu dalam satu irama yang menandai bahwa hari yang dinantikan itu akhirnya datang: Hari Raya Idul Fitri.
Lebaran kali dimaknai sebagai momentum menyambung tali silaturahmi. Ia juga dipahami juga sebagai hari kembalinya manusia kepada kesuian, laksana bayi yang baru dilahirkan. Ada pula yang memaknai sebagai hari raya terbesar umat Islam setelah Idul Adha. Pemaknaan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Prof. H.M. Baharun misalnya, menyebut Idul Fitri sebagai perayaan kemenangan umat muslim seusai menjalani ibadah puasa sebulan penuh.
Gagasan ini sejalan dengan kisah pewayangan tentang Kawah Chandradimuka, tempat penempaan seorang tokoh yang bernama Gatotkaca. Di kawah itulah Gatotkaca ditempa, digembleng, dan dibentuk menjadi sosok yang kuat. Demikian pula dengan Ramadan. Bulan tersebut menjadi ruang penempaan bagi manusia untuk menahan hawa nafsu, melatih kesabaran, serta membersihkan diri lahir dan batin. Idul fitri kemudian hadir sebagai simbol keberhasilan dari proses pembentukan diri tersebut.
Tambahan refleksi ini juga mengingatkan bahwa Ramadan pada hakikatnya bukan hanya ibadah yang bersifat ritual, melainkan proses pendidikan moral bagi manusia. Selama satu bulan, seorang muslim dilatih untuk menahan lapar dan dahaga, mengendalikan amarah, serta menumbuhkan empati kepada sesame. Lapar yang dirasakan bukan hanya sekedar menahan diri dari makanan, tetapi juga menjadi pengingat akan kehidupan mereka yang setiap hari hidup dalam keterbatasan. Dari sanalah lahir kesadaran, bahwa ibadah tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tanggung jawab sosial terhadap sesama manusia.
Namun merefleksikan makna Idul Fitri tidaklah semudah mengucapkannya. Menjadi pribadi yang benar-benar kembali kepada kesucian memerlukan proses panjang dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai faktor memengaruhinya, baik yang berasal dari dalam diri seperti nafsu, hati, dan pikiran, maupun dari luar diri seperti lingkungan, tontonan, serta budaya yang mengiringi kehidupan manusia
Menjadi hamba yang bertakwa secara utuh tidak dapat dicapai secara instan. Dalam perjalanan hidup, seorang bisa saja tergelincir ke dalam kesalahan. Akan tetapi, jika ia memiliki komitmen untuk segera bangkit dan kembali ke jalan yang benar, maka bukan tidak mungkin keimanan dan ketakwaannya tetap terjaga, meskipun proses jatuh dan bangkit itu terjadi berulang kali.
Ibarat seirang pengendara motor yang pertama kali melintasi jalan rusak dan berlubang. Ia mungkin akan jatuh bangun karena belum memahami medan yang dilalui. Namun, ketika ia telah terbiasa melewati jalan tersebut, ia akan lebih berhati-hati dan mampu melewatinya dengan selamat. Begitulah refleksi perjalanan spiritual manusia: jatuh bukanlah akhir, selama ia terus belajar untuk bengkit dan memperbaiki diri.
Dalam konteks ini, seremoni Idul Fitri tidak selalu berkonotasi negatif. Seremoni bukan semata-mata sesuatu yang bersifat simbolis atau sementara. Nilainya justru bergantung pada bagaimana tiap individu memaknai dan mengisinya.
Jika dimaknai secara positif, seremoni Idul Fitri menjadi momentum yang sangat tepat untuk mempererat silaturahmi. Penetapan hari raya sebagai libur nasional memberi kesempatan bagi banyak orang untuk banyak orang untuk berkumpul kembali dengan keluarga dan kerabat yang jarang ditemui dalam keseharian.
Sebaliknya, seremoni Idul Fitri dapat menjadi negative apabila diisi dengan kebiasaan yang kurang bijak. Misalnya, memaksakan diri membeli pakaian baru di luar kemampuan hingga terjerat pinjaman online dengan bunga tinggi. Padahal, esensi Idul Fitri tidak terletak pada kemewahan sandang yang dikenakan, melainkan pada hati yang bersih serta kesediaan untuk saling memaafkan.
Pada akhirnya, Idul Fitri bukan sekedar tentang satu hari yang dirayakan tiap tahun. Ia adalah cermin yang memantulkan kembali siapa diri kita setelah sebulan ditempa oleh Ramadan. Apakah puasa benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih juju, dan mampu menahan diri? Ataukah hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan yang selesai begitu takbir berhenti berkmandang.
Seremoni tentu tidak dapat dihindari. Rumah-rumah dipenuhi hidangan, pakaian baru dikenakan, dan perjalanan Panjang menuju kampung halaman menjadi tradisi yang terus diwariskan, Semua itu bukanlah sesuatu yang keliru. Seremoni adalah bagian dari ekspresi kegembiraan manusia. Ia menjadi cara masyarakat merayakan kemenangan setelah menjalani satu bulan penuh pengendalian diri.
Namun, seremoni tidak seharusnya menenggelamkan refleksi. Sebab Idul Fitri bukan sekedar tentang apa yang tampak di permukaan, melainkan tentang apa yang berubah di dalam diri manusia. Ketika gema takbir mulai mereda dan kehidupan berjalan seperti biasa, yang tersisa bukanlah kemeriakan peryaannya, melainkan nilai-nilai yang berhasil dibawa pulang dari Ramadan.
Di sanalah makna kemenangan sesungguhnya diuji. Bukan pada hari raya itu sendiri, tetapi pada hari-hari setelahnya. Pada cara manusia menjaga lisannya, menahan emosinya, dan memperbaiki hubungannya dengan sesama. Sebab menjadi pribadi yang lebih baik tidak pernah selesai hanya dalam satu malam takbiran.
Maka Idul Fitri seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni yang datang dan pergi setiap tahun. Ia adalah pengingat bahwa manusia selalu memiliki kesempatan untuk memulai kembali, memperbaiki yang pernah rusak, dan membersihkan hati dari segala yang mengotorinya. Sebuah momentum untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali terlupakan di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Karena pada akhirnya, kemenangan Idul Fitri bukan diukur dari seberapa meriah perayaannya, bukan pula dari seberapa banyak yang kita kenakan atau hidangkan. Kemenangan sejati justru terletak pada satu hal yang sederhana namun mendasar: apakah setelah Ramadan berlalu, kita benar-benar menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
