Oleh: Yoga Rizqi Amrullah
Puasa merupakan salah satu ibadah wajib bagi umat Islam. Ibadah ini bahkan menjadi bagian dari rukun Islam yang harus dijalankan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat, yaitu beragama Islam, baligh, berakal, serta mampu menjalankannya. Dengan demikian, puasa bukan sekedar amalan tambahan, melainkan kewajiban fundamental dalam kehidupan seorang muslim.
Namun dalam relaitas kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang berstatus muslim tetapi tidak melaksakan kewajiban puasa. Padahal puasa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, baik dari segi hukum maupun hikmah yang terkandung di dalamnya. Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan sarana untuk melatih pengendalian diri, khususnya dalam me-manage hawa nafsu.
Salah satu hikmah utama puasa adalah melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu supaya tidak liar dan melampaui batas. Dalam tradisi keilmuan Islam, hawa nafsu sering dianalogikan seperti anak kecil. Imam Al-Bushiri dalam Qosidah Burdah bait ke-19 menyatakan:
وَالـنَّـفْـسُ كَـالـطِّـفْـلِ إِنْ تُـهْـمِـلْـهُ شَـبَّ عَـلَـى ۞ حُــبِّ الـرَّضَــاعِ وَإِنْ تَـفْـطِـمْــهُ يَـنْـفَـطِـمِ )) ))
(Nafsu itu bak anak kecil, jika kau mengumbarnya, ia akan tumbuh dalam kecintaan pada penyusuan. Namun, apabila kau menyapihnya (anak kecil), (maka) ia akan berhenti (menyusu))
Menukil penjelasan dalam kitab Al-Umdah Syarh Burdah karya Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Ajibah Al-Hasani Rahimahullah, dijelaskan bahwa nafsu pada dasarnya cenderung kepada hal-hal yang menyenangkan baginya, sebagaimana seorang anak kecil yang selalu tertatik pada sesuatu yang disenanginya. Seorang anak kecil pada awal pertumbuhannya belum mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Oleh karena itu ia membutuhkan bimbingan dan pengawasan.
Demikian pula dengan hawa nafsu yang apabila tidak dikendalikan oleh akal dan tuntunan syariat, maka ia akan bekerja layaknya anak kecil yang berperilaku berdasarkan pada kesenangan semata tanpa mempertimbangkan akibatnya. Dalam konteks inilah puasa hadir sebagai sarana pendidikan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu tersbut. Tujuannya agar manusia mampu mengendalikan nafsunya, bukan justru dikendalikan olehnya.
Lebih dalam lagi, puasa juga dapat dipahami sebagai bagian dari jihad akbar atau perjuangan besar. Hal ini dikarenakan musuh utama manusia yang sebenarnya terdapat di dalam dirinyia sendiri., yaitu hawa nafsu yang tidak tampak oleh pancaindra. Hanya melalui kesadaran hati dan bimbingan akal manusia dapat mengidentifikasi dan memanajemennya.
Pertanyaan yang kemudian muncul yaitu: bagaimana mengetahui apakah puasa seseorang benar-benar memberikan dampak sosial-spiritual atau tidak? Salah satu indikatornya adalah perilaku seseorang seusai menjalankan puasa di bulan Ramadan
Misalnya, seseorang menjalankan puasa Ramadan satu bulan penuh. Ia juga melaksanakan berbagai macam ibadah Ramadan seperti salat tarawih, membaca Al-Quran, dan berbagai amalan ibadah lainnya. Namun, setelah Ramadan berlalu, perilakunya kembali seperti semula: gemar menggunjing, menguping pembicaraan orang lain, berkata kasar, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Jika demikian, dapat didiagnosa bahwa puasa yang dilaksanakannya belum memberikan perubahan signifikan dalam kesehariannya.
Keadaan ini dapat dianalogikan sebagai “manifestasi ular”. Yang mana ular merupakan hewan reptilia yang mengalami siklus pergantian kulit. Dalam fase kehidupannya, ular terlihat berubah wujud ketika melakukan pergantian kulit, namun setelah proses itu rampung, ia tetap menjadi ular dengan tabiat yang sama sebagaimana sebelumnya.
Analagi ini memberikan gambaran laksana orang yang ketika bulan Ramadan tiba tampak berubah menjadi lebih baik. Ia meninggalkan berbagai jenis kebiasaan buruk disebabkan dalam kondisi puasa. Namun begitu Ramadan usai, ia kembali pada kebiasaan lamanya. Perubahan yang terjadi hanya bersifat temporer (sementara), sama seperti ular yang hanya berganti kulit tanpa mengalami perubahan wujud dan tabiat.
Beda halnya dengan analogi ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Ulat memiliki siklus hidup yang terdiri dari empat tahap: telur, larva (ulat), kepompong, dan kupu-kupu. Pada fase pertama, ulat sering dianggap sebagai hama sebab merusak tumbuhan. Akan tetapi ketika melalui proses metamorphosis yang panjang, ulat berubah menjadi kupu-kupu nan indah serta mamberi manfaat dalam proses penyerbukan tumbuhan.
Analogi ini menggambarkan puasa yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh akan memberi dampak transformasi bagi seseorang pelakunya. Seseorang yang sebelum bulan Ramadan memiliki perilaku buruk, kemudian menjalani rangkaian “penggemblengan spiritual” selama bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan (imanan wahtisaban). Setelah bulan Ramadan meninggalkannya, ia tidak kembali pada perilaku lamanya yang kurang baik, melainkan mengalami perubahan nyata menuju perilaku yang lebih baik.
Dengan demikian, kriteria diterima atau tidaknya puasa seseorang pada hakikatnya dapat dilihat dari output atau dampak yang muncul dalam kesehariannya, baik dari segi sosial maupun spiritual. Puasa yang diterima oleh Allah Swt sudah semestinya akan melahirkan perubahan adab, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan kesadaran spiritual seorang hamba.
Secara syariat dalam hadis Nabi Saw. disebutkan bahwa zakat fitrah akan menjadi penyempurna puasa yang “tergantung antara langit dan bumi” dapat diterima Allah Swt. Namun secara substansi, indikator kerhasilan puasa dapat dilihat dari perubahan sikap dan perilaku orang yang melaksanakannya.
Walaupun demikian penting kiranya untuk dijadikan underline bahwa puasa tetap menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan setiap muslim, meski seseorang merasa bahwa dirinya belum mampu sepenuhnya memperbaiki perilaku. Justru lewat media puasa inilah proses tarbiyatun nafsi atau pendidikan diri berlangsung, sehingga manusia terus berupaya menaklukan hawa nafsunya
Oleh karenanya, sebelum bulan Ramadan berakhir meninggalkan kita, alangkah baiknya kita memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki kualitas ibadah puasa kita. Dengan cara menjalankannya secara sungguh-sungguh, penuh keimanan dan keikhlasan (imanan wahtisaban), semoga puasa yang kita lakukan dapat membentuk pribadi diri yang lebih baik dan menjadikan kita menjadi hamba Allah Swt. yang bertaqwa (tattaqun).
